Terkini

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Kesehatan

Ibu Hamil dan Menyusui Bolehkah Puasa Ramadan?

Ibu Hamil dan Menyusui Bolehkah Puasa Ramadan?
305caa3ede6a6f25.jpg (Foto: BeritaOpini/Dokumentasi)

Senin, 27 April 2020 | 05:14 WIB

Pertanyaan mengenai kewajiban puasa untuk ibu hamil dan menyusui sering timbul di bulan suci Ramadan. Apakah mereka aman untuk melakukan puasa? Dari sudut pandang kedokteran, tidak soal bila seorang ibu hamil dan menyusui puasa. Itu semua bergantung pada kesehatan mereka sendiri-sendiri.

Ada beberapa keadaan yang mesti dicermati. Salah satu misalnya ibu hamil trimester pertama yang kebanyakan masih merasakan sulit makan, mual, muntah sampai berat tubuh turun. Ditambah lagi bila ada keadaan maag, alangkah baiknya konsultasi lebih dahulu mengenai puasa kepada dokter kandungannya.

Dapat makan sedikit tetapi kerap dan jangan dipaksakan jika tak kuat. Misal jadi muntah-muntah yang berimbas dapat kekurangan konsumsi, sementara itu di trimester pertama semua organ janin mulai tumbuh.

Sedangkan untuk ibu hamil di trimester ketiga kondisinya diprediksi lebih baik dan tangguh untuk melakukan puasa dibandingkan saat awal kehamilan. Penting dikenali kalau puasa sesungguhnya menggeser jam makan. Jadi yang penting dicermati untuk ibu hamil ialah konsumsi gizi ketika sahur, makan sedikit tetapi kerap ketika buka puasa, dan wajib banyak minum air putih.

Lantas, timbul pertanyaan apakah puasa mempengaruhi berat tubuh bayi? Tidak ada perbedaannya untuk ibu hamil yang melakukan puasa atau tidak sepanjang memenuhi konsumsi gizi.

Apalagi ketika hamil trimester ketiga kerap kontrol, nanti bakal ketahuan pengaruh atau tidak (puasa) pada berat tubuh bayi. Jika keadaan itu mempengaruhi, maka tidak disarankan berpauasa bagi ibu hamil menyusui.

Boleh atau tidaknya ibu menyusui melakukan puasa pula bergantung keadaan kesehatan dan mutu Air Susu ibu atau ASI. Karena di saat menyusui, ibu memerlukan jumlah cairan dan kalori lebih banyak untuk pembuatan ASI. Untuk ibu menyusui yang belum sanggup melakukan puasa, ada opsi mengubah puasa dengan membayar fidyah atau memberi makan orang yang memerlukan sebanyak hari ia tidak melakukan puasa.

Tetapi balik lagi, dilihat ciri pembuatan ASI masih mulus atau malah menurun. Semua dapat di-adjust sesuai keperluan, permasalahan demi permasalahan tiap orang berlainan treatment-nya.

Baca Juga