Padang, 1 November 2025
Di tengah dinamika politik nasional yang kian kompleks, Anies Rasyid Baswedan menegaskan pentingnya kehadiran kekuatan rakyat sebagai elemen penyeimbang dalam sistem demokrasi Indonesia. Hal itu disampaikan dalam acara Pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Sumatera Barat dan Dialog Kebangsaan Vox Populi Suara Rakyat bertema “Rakyat sebagai Kekuatan Inti Perubahan” yang digelar di The Axana Hotel Padang, Sabtu (1/11/2025).
Anies menilai, Gerakan Rakyat memiliki posisi strategis dalam konstelasi politik nasional. Organisasi ini, kata dia, harus tampil bukan sekadar sebagai ormas pendukung, tetapi sebagai kekuatan pengawas dan penggerak aspirasi rakyat yang mampu mengawal arah kebijakan negara agar tetap berpihak kepada kepentingan publik.
“Gerakan Rakyat harus hadir sebagai jembatan antara rakyat dan pembuat kebijakan. Banyak persoalan yang tidak viral tapi nyata di lapangan — dari harga kebutuhan pokok, pendidikan, hingga kesejahteraan petani. Jika suara rakyat ini tidak diangkat, maka kebijakan akan terus berpihak pada yang kuat, bukan pada yang membutuhkan,” ujar Anies.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menekankan bahwa demokrasi tidak bisa hanya diserahkan kepada elite politik. Demokrasi, menurutnya, membutuhkan kekuatan sipil yang aktif mengawasi dan mengoreksi kekuasaan.
“Jangan biarkan demokrasi hanya jadi urusan partai dan parlemen. Rakyat harus hadir sebagai pengontrol. Dan Gerakan Rakyat bisa menjadi wadah kolektif untuk memastikan kebijakan negara tidak melenceng dari mandat konstitusi,” tegasnya.
Anies juga menggagas pembentukan “Pos Pantau Harga dan Layanan” di setiap daerah. Menurutnya, pos ini akan berfungsi sebagai instrumen pengawasan rakyat terhadap kebijakan ekonomi dan pelayanan publik di tingkat lokal.
“Pos Pantau ini akan mencatat harga-harga pokok, biaya pendidikan, dan jalannya bantuan sosial. Kalau ada penyimpangan, dokumentasikan dan sampaikan. Ini bukan untuk mempermalukan, tapi untuk memastikan uang rakyat kembali kepada rakyat,” katanya.
Langkah tersebut, menurut Anies, akan memperkuat fungsi check and balance di tingkat daerah, sebuah elemen penting dalam demokrasi substantif. Ia menegaskan, Gerakan Rakyat harus menjadi mitra kritis pemerintah — mendukung kebijakan yang pro-rakyat, namun berani mengoreksi jika terjadi penyimpangan.
Selain itu, Anies mengingatkan pentingnya penguatan basis sosial politik di akar rumput. Ia mengajak Gerakan Rakyat untuk menghidupkan kembali forum-forum warga, diskusi kampung, dan musyawarah nagari sebagai ruang partisipasi politik yang otentik.
“Perubahan tidak selalu lahir di gedung tinggi. Ia tumbuh dari pertemuan warga, dari dialog di warung kopi, dari suara kecil yang berani jujur,” ucapnya.
Dalam konteks keorganisasian, Anies menekankan bahwa Gerakan Rakyat harus menjaga independensi politik dan integritas moral. Ia mengingatkan bahwa organisasi rakyat akan kehilangan legitimasi jika terseret kepentingan pribadi atau politik transaksional.
“Gerakan ini bukan alat kekuasaan, bukan ladang keuntungan pribadi. Ini rumah bagi mereka yang ingin membela rakyat. Kalau ada yang menyimpang, maka Gerakan Rakyat harus berani menegakkan disiplin dari dalam,” katanya dengan nada tegas.
Menutup pidatonya, Anies menyerukan agar Gerakan Rakyat menjadi benteng terakhir demokrasi, terutama ketika kebebasan berpendapat terancam oleh kekuasaan.
“Kalau ada warga dipanggil karena kritik, Gerakan Rakyat harus hadir mendampingi. Demokrasi tidak boleh tunduk pada ketakutan. Peran Gerakan Rakyat adalah menjaga arah republik ini agar tetap berpihak pada rakyat,” tegasnya.
Acara tersebut dihadiri oleh pengurus nasional Gerakan Rakyat, akademisi, tokoh masyarakat, serta perwakilan pemerintah daerah. Momen itu menjadi ajang konsolidasi politik rakyat, menegaskan bahwa kekuatan sejati demokrasi tidak terletak pada elite di atas, melainkan pada rakyat yang berani bersuara di bawah.